KH. MUHAMMAD ZEN SYUKRI

http://www.syaikhgoogle.com/2009/10/kh-muhammad-zen-syukri.html

Beliau dilahirkan di Palembang pada 10 Oktober 1919, dari pasangan K.H. Hasan Syukur dan Nyimas Hj. Sholhah Aghari. Zen Syukri mulai belajar agama sejak kecil namun orang tuanya tak menyekolahkan ke sekolah Belanda. Ia belajar di madrasah ibtidaiyah dan tamat pada tahun 1935. Setelah itu, ia merantau ke Jawa Timur, ke sebuah pondok pesantren ternama di Tebuireng, Jombang. Di sana, Syukri mengabdi (menjadi khodam) kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Karena ketekunannya, ia selalu diajak sang guru pergi pengajian keliling Jombang sebagai pembawa kitab dan membantu semua keperluan gurunya saat berceramah atau bertemu dengan para kiai. Dengan berkah Kiai Hasyim Asy'ari, dikemudian hari  KH. MUHAMMAD ZEN SYUKRI menjadi Ulama Besar dan aktifis Nahdlatul Ulama di Palembang sekaligus Sufi penggerak Tarekat Sammaniyah.

Hanya dalam waktu 3 tahun, ia khatam mengkaji berbagai kitab sekaligus. Akhirnya, Kiai Hasyim rela melepaskan santri kesayangannya itu untuk kembali ke kampung halamannya pada tahun 1939 untuk mengembangkan ajaran ahlusunnah di daerahnya serta untuk menggerakkan Nahdlatul Ulama (NU) di kawasan Sumatera. Pesan perpisahan yang disampaikan Kiai Hasyim hanyalah sebuah kalimat, “Namamu hanya Muhammad Zen Syukri, tanpa gelar apa-apa, hanya gelar Abdullah (hamba Allah), yang patut diharapkan dari Allah.”

Sebagai salah seorang santri Tebu Ireng dan murid Kiai Hasyim Asy’ari, ia mendapat posisi terhormat di pengurusan NU Palembang. Kemampuan yang  ia bawa dari Tebu Ireng bukan hanya penguasaan dan kemahiran dalam menyampaikan ilmu agama, tetapi juga kecakapan berorganisasi, sehingga NU di Palembang terus mencapai kemajuan. Maka, pada tahun 1943 ia dipilih sebagai ketua tanfidziyah NU Cabang Palembang.

Sebagaimana gurunya, Kiai Hasyim Asy’ari, Zen Syukri juga rajin mengadakan pengajian ke berbagai pelosok daerah. Dengan dedikasi dan kedalaman ilmunya, maka pada tahun 1950 ia mendapat kehormatan untuk mengajar di Masjid Agung Palembang, masjid peninggalan Kerajaan Palembang Darussalam, yang sangat ketat dalam menyeleksi kiai. Masjid ini merupakan warisan Kesultanan Palembang, sebagai pusat pengembangan Islam Ahlusunnah Waljamaah. Tidak mudah untuk dapat diterima sebagai pengajar di Masjid Agung kalau keilmuannya tidak benar-benar mumpuni. Di sana, ia bertugas mengajarkan fiqih, tauhid, dan terutama tasawuf. Akhirnya, Zen Syukri menjadi pemimpin tertinggi serta imam di Masjid Agung.

Kesibukan mengelola Masjid Agung tidak menghambat aktivitas Zen di NU, bahkan ia diangkat menjadi pengurus NU Wilayah Sumatera Selatan dan terpilih menjadi Rais Am Syuriah (Ketua Umum Dewan Syuro) NU Wilayah Sumatera Selatan selama tiga periode, mulai 1984 hingga 1999. Zen juga sempat terpilih sebagai salah seorang mustasyar (penasehat) Pengurus Besar NU (PBNU) sampai sekarang. Kemudian atas ketokohannya di NU ia dipilih sebagai anggota MPR sebagai wakil daerah.

Zen Syukri juga dikenal sebagai khalifah tarekat Sammaniyah di Palembang. Zen Syukri mendapatkan ijazah tarekat Sammaniyah dari ayahnya sendiri yaitu Hasan Ibn ‘Abd al-Shukur dan masih sempat menimba ilmu dengan kakeknya yaitu Syekh Muhammad Azhari Ibn ‘Abd Allah al-Jawi al-Palimbani. Melalui Zen Syukri inilah, komunitas tarekat Sammaniyah di Palembang mengalami kemajuan yang cukup pesat, ia memiliki kelompok pengajian yang bernama Majelis Ta’lim Ahlus Sunnah wal Ja-ma’ah yang tersebar di sejumlah masjid di Palembang.

Selain Zen Syukri, salah seorang zuriat atau keturunan ke-7 dari Syaikh ‘Abd al-Samad al-Jawi al-Palimbani yang turut serta menyebarkan ajaran tarekat Sammaniyah dan memimpin peribadatan tarekat Sammaniyah di Masjid Agung Palembang adalah Kms. H. Andi Syarifuddin. Ia memperoleh ijazah tarekat Sammaniyah dari ayahnya Kms. H. Ibrahim Umari Ibn Ki Kms. H. Umar. Syaikh ‘Abd Allah Ibn Ma’ruf memberikan ijazah tarekat kepada muridnya yaitu Syaikh Muhammad Azhari Ibn ‘Abd Allah Ibn ‘Ashiq al-Din (1856-1932).

Sebagai guru Tarekat Sammaniyah, Zen Syukri memiliki banyak pengikut di Palembang yang meliputi buruh, pedagang, pegawai, dan mahasiswa. Perkembangan yang pesat ini erat kaitannya dengan kemasyhuran Zen Syukri di Palembang. Ia adalah seorang ulama sufi kharismatik yang diakui masyarakat Palembang. Ia adalah alumni Pesantren Tebuireng yang menjadi murid Hadarah Shaykh Hashim al-Asy’ari yang menguasai seluruh bidang ilmu agama Islam dengan spesialisasi pada tauhid dan tasawuf.

Peranan yang dilakukan oleh Zen Syukri dalam memelihara dan mempertahankan tarekat Sammaniyah ini adalah dengan mengadakan pengajian-pengajian di masjid dan langgar bahkan di rumahnya sendiri. Pengajaran dan bimbingan diberikan menurut tiga tingkatan murid tersebut sehingga masing-masing tingkatan mendapat materi yang sesuai dengan kapasitas masing-masing. Pada tingkatan mubtadi materi utama yang diberikan adalah dasar-dasar keimanan dan ketauhidan dengan menggunakan kitab-kitab al-‘Ashariyah. Pada tingkatan mutawwasit materi yang disampaikan berupa tasawuf akhlaqi dengan menggunakan kitab-kitab karya Imam al-Ghazali  dan tingkatan muntahi materi yang diberikan berupa tasawuf falsafi (teosofi) dengan menggunakan kitab-kitab karya Ibn al-‘Arabi.

Tingkatan dan rujukan materi yang disampaikan oleh Zen Syukri kepada murid-muridnya merujuk kepada apa yang disampaikan Syaikh ‘Abd al-Samad dalam kitabnya Siyar al-Salikina ila ‘Ibadat Rabb al-‘Alamin.  Sampai saat ini, Zen Syukri memberikan pengajaran sebanyak 30 kelompok pengajian yang tersebar di sejumlah masjid, mushalla, langgar maupun majelis ta’lim yang ada di kota Palembang dengan berbagai latar belakang murid yang. Pengikut tarekat Sammaniyah di Palembang memang tidak memiliki struktur organisasi secara formal. Pengikut tarekat  harus menjalankan ajaran dan ritual tarekat sesuai dengan tingkatannya. Aturan-aturan yang bersifat formal yang meliputi tugas dan kewajiban penganut tarekat tidak dikenal dalam tradisi Sammaniyah.

KARYA TULIS KH. MUHAMMAD ZEN SYUKRI

Pedoman Puasa (1954), Risalah Tauhid (1960), Rahasia Sembahyang, Melepaskan diri dari Bahaya Syirik (1964), Keimanan kepada Allah (1972), Al-Qur’an: Pendekatan Diri kepada Allah, Menuju Haji yang Mabrur, Qut al-Qulbi (Santapan Rohani), Sejarah Thariqat Sammanniyah Berkembang di Palembang, 10 Iman dan Menghadapi Maut, Menyegarkan Iman dengan Tauhid, Nur ‘Ala Nur (Cahaya di atas Cahaya), dan Kumpulan doa di Tanah Suci.

REFERENSI
  • Azra, Azyumardi. “Pengantar” dalam Rakhmad Zailani dkk., Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Jakarta: Islamic Center, 2011.
  • Syafi’ie, Abdullah. Ulama Produk Lokal Asli Betawi dengan Kiprah Nasional dan Internasional. S.l: s.n, s.a.
  • Dhohir, Zamaksari. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3 ES, 1984.
  • Panitia Renovasi masjid Agung Palembang. 261 Tahun Masjid Agung dan Perkembangan Islam di Sumsel. Palembang: s.n, 2001.
  • Sukri, M. Zen. Menyegarkan Iman dengan Tauhid. Jakarta: Penerbit Cakra Media, 2007.
  • Sukri, M. Zen. Santapan Jiwa. Palembang: Unsri, 2008.
  • Ensiklopedi Pemuka Agama Nusanatara, Balitbang diklat Kemenag RI, 2016.

Share Facebook
Share Twitter
Share Google+

KH. MUHAMMAD ZEN SYUKRI



FOLLOW

2010 © Bahaya Ajaran Sesat Sekte Salafi Wahabi Khawarij Mujassimah Musyabbihah
About / Sitemap / Contact / Privacy / Disclaimer