TAHLILAN BUKAN AJARAN HINDU

http://www.syaikhgoogle.com/2011/02/tahlilan-bukan-ajaran-hindu.html

FATWA IMAM ASY-SYAUKANI (Ulama Rujukan Wahabi) TENTANG TAHLILAN

Di dalam Kitab : FATH AL-RABBANI MIN FATAWA AL-IMAM SYAUKANI

Karya dari : Muhammad Asy-Syaukani (1759–1834 M).
Beliau Adalah seorang Ulama Besar, Qadhi (hakim), dan Ahli Fiqih,
Nama lengkap : Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah Asy-Syaukani Ash-Shan’ani.
Julukan : IMAM ASY-SYAUKANI, Yang di nisbahkan kepada Wilayah Hijratusy Syaukan,
Yang berada di luar kota Shan'a.



Kitab-Kitab Beliau Banyak dijadikan Rujukan Oleh Ulama Madzhab Wahabi.
Pada Halaman: 4502-4503, Beliau Membahas tentang Tradisi Tahlilan, Dan berkata dalam Kitab tersebut:

السؤال الخامس: حاصله الاستفهام عن الأعراف الجارية في بعض البلدان من الاجتماع في المساجد لتلاوة القرآن على الأموات،
وكذلك في البيوت،
وسائر الاجتماعات التي لم ترد في الشريعة،
هل يجوز ذلك أم لا...؟.

“Soal Kelima : Kesimpulan soal, pertanyaan tentang Tradisi-Tradisi yang berlangsung di sebagian Negeri berupa perkumpulan di Masjid-masjid untuk membaca Al-Qur’an bagi orang-orang yang sudah meninggal. Demikian pula perkumpulan di rumah-rumah, Dan perkumpulan-perkumpulan lain yang tidak datang dalam syari’at. Apakah hal tersebut Boleh atau Tiidak ??

أقول: لا شك أن هذه الاجتماعات المبتدعة إن كانت خالية عن معصية سليمة من المنكرات فهي جائزة،
لأن الاجتماع ليس بمحرم في نفسه ،
لا سيما إذا كان لتحصيل طاعة كالتلاوة ونحوها.
ولا يقدح في ذلك كون تلك التلاوة مجعولة للميت،
فقد ورد جنس التلاوة من الجماعة المجتمعين كما في حديث: ” اقرأوا على موتاكم يس ” وهو حديث حسن ،
فلا فرق بين تلاوة يس من الجماعة الحاضرين عند الميت أو على قبره، وبين تلاوة جميع القرآن أو بعضه لميت في مسجده أو بيته.

Saya (Asy-Syaukani) berkata:
"Tidak diragukan lagi bahwa perkumpulan-perkumpulan yang diada-adakan ini, APABILA BERSIH DARI KEMAKSIATAN, SELAMAT DARI KEMUNKARAN, MAKA HUKUMNYA "BOLEH". Karena perkumpulan itu Tidak Di haramkan sebab berkumpulannya itu. TERLEBIH APABILA PERKUMPULAN TERSEBUT UNTUK MELAKSANAKAN IBADAH, SEPERTI MEMBACA AL-QUR'AN DAN SESAMANYA (Dzikir dan Tahlil). PERKUMPULAN TERSEBUT JUGA TIDAK DAPAT DI CELA, KARENA BACAAN AL-QUR'AN NYA DIHADIAHKAN BAGI ORANG YANG SUDAH MENINGGAL.

Karena jenis bacaan Al-Qur’an dari Jama'ah yang Berkumpul benar-benar telah datang seperti dalam Hadits: "BACAKANLAH SURAH YASIN BAGI ORANG-ORANG YANG TELAH MENINGGAL DARI KALIAN“.

Hadits ini adalah Hadits Hasan. Jadi tidak ada Bedanya antara membaca Surat Yasin, dari Jama'ah yang Hadir di sisi si Mati, atau di atas Makamnya, Dan antara Membaca seluruh Al-Qur’an atau Sebagian bagi si mayit, di Masjid nya atau di Rumahnya.

وبالجملة فالاجتماعات العرفية التي لم يرد جنسها في الشريعة إن كانت لا تخلو عن منكر فلا يجوز حضورها،
ولا يحل تطييب نفس الجار بحضور مواقف المنكرات والمعاصي وإن كانت خالية عن ذلك،
وليس فيها إلا مجرد التحدث بما هو مباح،
فهذا لا نسلم أنه لم يرد جنسه في الشريعة المطهرة،
فقد كان الصحابة الراشدون يجتمعون في بيوتهم ومساجدهم،
وعند نبيهم – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ويتناشدون الأشعار،
ويتذاكرون الأخبار،
ويأكلون ويشربون،
فمن زعم أن الاجتماع الخالي عن الحرام بدعة فقد أخطأ،
فإن البدعة هي التي تبتدع في الدين،
وليس هذا من ذاك.

Kesimpulannya :
"Perkumpulan-Perkumpulan Tradisional yang jenisnya tidak datang di dalam Syariat, Apabila Tidak Bersih dari Kemungkaran, Maka Tidak Boleh Menghadirinya. Tidak Boleh Menyenangkan Hati Tetangga dengan Menghadiri tempat-tempat Kemungkaran dan Kemaksiatan. Apabila perkumpulan tersebut bersih dari hal itu, Dan isinya hanya sekedar membicarakan hal-hal yang dibolehkan, Maka hal ini Kami Tidak Menerima jika dikatakan bahwa jenis perkumpulan tersebut Tidak Terdapat di Dalam Syariat yang Suci. Karena para Sahabat yang Memperoleh petunjuk selalu mengadakan perkumpulan di rumah-rumah dan masjid-masjid mereka, dan di sisi Nabi mereka Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Mereka Saling Menembangkan Syair, Saling Mengingatkan berita-berita, Mereka Makan dan Minum di situ.

SIAPA YANG BERASUMSI BAHWA PERKUMPULAN YANG BERSIH DARI HARAM ITU BID'AH, MAKA IA TELAH BENAR-BENAR KELIRU.

Karena Bid’ah itu sesuatu yang diada-adakan dalam Agama.

SEDANGKAN PERKUMPULAN (Baca Al-Qur'an, Yasin, Tahlil dan Semacamnya) INI BUKAN TERMASUK BID'AH TERSEBUT".

Jadi Tahlilan Itu Boleh, Yang Tidak Membolehkan itu orang yang Salah Faham Dan Bodoh...!!

Baca juga :
1. Ternyata Syaikh Wahabi Ibnu Taimiyah Penggemar Tahlilan.
2. Ketua Mufty Saudi Halalkan Kenduri Sebagai Sunnah Sedekah Untuk Mayit.
3. Sayyidina Umar R.A Adakan Kenduri Mayit (SUNNAH KHULAFAUR ROSYIDIN).
4. Hukum Tahlilan Yasinan Menurut Sunnah.

Share Facebook
Share Twitter
Share Google+

TAHLILAN BUKAN AJARAN HINDU



FOLLOW

2010 © Bahaya Ajaran Sesat Sekte Salafi Wahabi Khawarij Mujassimah Musyabbihah
About / Sitemap / Contact / Privacy / Disclaimer