PENGHANCURAN KOMPLEK PEMAKAMAN AL-BAQI OLEH SEKTE WAHABI

http://www.syaikhgoogle.com/2017/11/penghancuran-al-baqi-oleh-sekte-wahabi.html

Makam Al-Baqi yang merupakan pemakaman tertua dan menjadi salah satu tempat pemakaman terpenting umat Muslim, terletak di daerah Medina, mengalami pembongkaran pada tahun 1806, dibangun kembali pada pertengahan abad ke-19 kemudian dibongkar untuk kedua kalinya pada tahun 1925 atau 1926. Pembongkaran pertama dilakukan oleh Wangsa Saud dan pengikut ajaran Wahabi yang dikenal dengan Keamiran Diriyah. Pembongkaran kedua kembali dilakukan oleh Wangsa Saud yang menguasai Kesultanan Nejd dengan sekutunya pengikut ajaran Wahabi. Pembongkaran ini didasarkan pada penafsiran ajaran Islam yang melarang pendirian bangunan atau monumen di atas kuburan (kuburan yang dirumahi dengan bentuk yang megah).

LATAR BELAKANG

Baqi al-Ghardad (dalam Bahasa Arab بقیع الغرقد‎‎ , berarti halaman pohon berduri) dikenal sebagai Jannat al-Baqi (dalam Bahasa Arab بقیع الغرقد‎‎ , berarti kebun pohon), sudah difungsikan sebagai makam sebelum masuknya Islam di Medina. Semasa hidup nabi, di tempat inilah dimakamkan anak Nabi Muhammad yang bernama Ibrahim. Banyak narasi yang membuktikan tentang kunjungan Nabi ke makam tersebut untuk memohon ampun bagi orang-orang yang dimakamkan disana.

Tempat ini mendapat banyak perhatian karena menjadi tempat dimakamkannya sahabat Nabi yang bernama Uthman bin Maz’oon (dikenal sebagai As’ad ibn Zurarah) pada tahun 625 M. selain itu, tempat ini menajdi lokasi penting bagi kaum Muslim Syiah sebab empat imam Shyiah yang dimakamkan disana diantaranya; Hasan ibn Ali, Ali ibn Husain Muhammad al-Baqir dan Jafar ash-Shadiq. Catatan sejarah menunjukkan di dalam Jannat al-Baqi terdapat banyak kubah, dan bangunan makam yang megah sebelum abad keduapuluh Masehi, dan sekarang hanya menjadi lahan kosong tanpa bangunan di atasnya.

Pembentukan kepemerintahan Saudi pertama kali dipimpin oleh Muhammad ibn Saud yang bersekutu dengan Muhammad ibn Abd-al Wahhab untu menyaingi kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah. Daerah Najd berada di bawah penaklukan anak Ibn Saud setelah Muhammad Ibn Saud wafat pada taun 1765. Pada tahun 1806, Hijaz meliputi Mekkah dan Madinah berada di bawah kekuasaan pemerintahan Saud. Perluasan ajaran Wahabi dikarenakan lemahnya Kerajaan Empire dalam memegang  tempat suci umat Muslim. Oleh karenanya, Kesultanan Utsmaniyah mengirim bala tentara dan mengalahkan pemerintahan pertama Saudi dalam peperangan Ottoman-Wahhai War pada tahun 1811–1818. Pada tahun berikutnya, bangsa Saudi berhasil merebut kembali daerah Hijaz, Kerajaan Hejaz, Najd di bawah pasukan Abdul Aziz ibn Saud.

MOTIF

Pemberontakan al-Baqi oleh Wahabi didasarkan pada penafsiran ayat Quran tentang makam keramat bahwasanya mengagungkan makam merupakan perbuatan musyrik dan pembuatan makam merupakan Bid’ah. Mereka mengambil contoh dari peristiwa sapi emas yang dibuat oleh kaum Bani Israel sebagai sesembahan sehingga membuat Allah marah. Beberapa Muslim berpandangan bahwa hal itu sebagai hukum sikap terhadap gambar dan benda keramat. Di lain pihak, akademis Syi’ah menggunakan beberapa ayat lain untuk medukung pembuatan atau penyucian makam bagi orang-orang suci umat Islam. Menurut akademis Syi’ah, Mohammad Jafar Tabasi kuburan Imam Shia sudah ditakzimkan sebad yang lalu dan pada saat itu tidak ada ulama Sunni yang mengatakan bahwa penyucian makam merupakan sesuatu yang baru. Seminggu sebelum pembongkaran, perintah Ibn Bulayhid , grup yang terdiri dari lima belas akademis Medina menyatakan fahwa tentang pelarangan pembuatan makam yang dimegahkan.

Berdasarkan penelitian akademis oleh Adeel Mohammadi, penghancuran Al-Baqi oleh Wahhabi juga mengandung unsur politik. Pemimpin muslim bertanggung jawab pada penerapan “amar ma’ruf nahi munkar” (Memerintahkan kepada yang baik dan menjauhkan dari yang buruk ) supaya bisa menerapkan itu maka harus memiliki kekuatan politik. Penghancuran oleh Wahhabi merupakan implikasi kegiatan politik untuk membangun kekuasaan Najd di Hijaz, yang terdiri dari kekuasaan religius Najd, para akademis Wahhabi dan kekuasaan politik pemerintahan keluarga Saudi. Mohammadi berargumentasi bahwa “Kekuasaan Saudi sedang mencari pengakuan atas kekuasaan politik yang baru”. Wahhabisme berpandangan bahwa penghancuran makam merupakan tindakan keadilan terhadap teologi dan prinsip politik. Menurut Mohammadi, penghancuran dijadikan sebagai tanda kemenangan terhadap Syi'ah, karena terdapat kuburan beberapa Imam Syi'ah di pemakaman Al-Baqi dan juga para Ahlul Bayt (Keluarga Muhammad).

PEMBONGKARAN PERTAMA

Pada awal pemerintahan Wangsa Saud di abad 19 (1806) di Mekkah dan Medina, mereka menghancurkan bangunan-bangunan suci dan religius termasuk makam dan masjid masjid di dalam mauupun di luar bangunan Al-Baqi, menurut doktrin mereka. Bagunan dihancurkan sampai rata dengan tanah dan dirampas untuk keperluan dekorasi tempat mereka.

Setelah pengambilalihan kota suci, Wangsa Saud mencegah Muslim Non-Wahabi untuk melakukan Haji. Beberapa tahun kemudian mereka menambah tugas Haji. mereka juga melarang orang yang berhaji dari membawa instrumen musik dan mahmal (benda yang sering dibawa orang berhaji bukan termasuk standar Wahabi) begitu pula dengan pria yang tidak berjenggot. pada tahun 1805, setahun sebelum pembongkaran makam,beberapa musim yang tidak diperbolhkan melakukan Haji diantaranya; Muslim Iraq, Muslim Iran, Musllim Syria, Muslim Mesir dan juga Maghrebi.

Johan Ludwig Burckhardt, seorang penjelajah berkebangsaan Eropa, mengunjungi pemakaman pada tahun 1815 setelah pembongkaran pertama dan melihat sisa reruntuhan kubah di sekitar pemakaman, ia berkata bahwa orang Medina sangat kurang dalam menghargai orang-orang yang berjasa di negaranya. penghancuran pun mencegah penduduk setempah untuh melakukan ritual mereka.

Sultan Mahmud II yang berkuasa di Ottoman saat itu, diperintahkan oleh pemerintah Mesir, Muhammad Ali Pasha untuk merebut kembali wilayah yang diduduki oleh pemeberontakan Wahabi, ini yang menyebabkan Perang Wahabi-Ottoman terjadi. Ibrahim Pasha, anak Muhaam Ali Pasha berhasil mengalahkan pasukan pemberontak di peperangan Diriyah pada tahun 1818. atas perintah Sultan Mahmud II, Ottoman kembali membangun bangunan bangunan, kubah dan masjid dengan seni khas Ottoman yang dilakukan pada tahun 1840 sampai 1860. Pada tahun 1853, Sir Richard Francis Burton, mengunjungi Medina dengan menyamar menjadi Muslim Afghan bernama Abdullah, ia berkata bahwa terdapat bangunan lima puluh lima masjid dan makam suci di bawah kekuasaan Ottoman. Seorang penjelajah berkebangsaan Inggris berpendapat bahwa daerha kekuasaan Ottoman mirip seperti Istanbul dipenuhi dengan dinding putih, menara-menara terbuat dari emas dan lapangan hijau. Selain itu, pada tahun 1901 dan 1908, Ibrahim Rifat Pasha, penjelajah Mesir mendeskripsian enam belas bangunan kubah merupakan bagunan kuburan perorangan ataupun kelompok.

PEMBONGKARAN KEDUA

Antara tahun 1924 dan 1925, Wangsa Saud merebut kembali kekuasaan di Hijaz, Pembongkaran dimulai pada tanggal 21 April 1926 atau 1925, Ibn Saud memberikan otorisasi kepada Qadi Abd Allah ibn Bulayhid untuk menghancurkan pemakaman yang dilakukan oleh Ikhwan, milisi religius Wahabi. Makam batu nisan yang sederhana pun ikut dihancurkan pada peristiwa pembongkaran tersebut. Mualaf berkebangsaan Britis Eldon Rutter membandingkan pembongkaran seperti telah terjadi gempa bumi: Tidak ada bangunan makam-makam kecuali hanya gundukan-gundukan kecil batu, potongan-potongan kayu, batakan besi, ping-puing reruntuhan batu bata yang bertebaran.

Pekerja yang ikut menghancuran mendapatkan upah 1.000 Majidi Riyal. Kubah makam orang-orang berpengaruh yang dihancurkan, yaitu : Abdullah ibn Abdul Muthallib dan Aminah (Ayahanda dan Ibunda Rasulullah), Ismail ibn Jafar (anak tertua Ja'far ash-Shadiq), Abbas ibn Abdul Muthallib dan Hamza ibn Abdul Muthallib (keduanya merupakan paman Nabi Muhammad), Ibrahim ibn Muhammad (anak laki-lai Nabi Muhammad), Malik ibn Anas, Utsman ibn Affan, empat Imam Syi'ah, dan 7000 orang lainnya yang mempunya ikatan dengan Nabi Muhammad.

REAKSI DUNIA

Pembongkaran kedua menuai reaksi Majles Shora ye Mell (Kedutaan Konsultan Nasional Iran) dan mengirimkan perwakilan untuk melakukan investigasi di Hijaz. menurut Ensiklopedi Islam beberapa tahun ini, akademis religius Iran dan publik figur politik berusaha untuk membangun kembali pemakaman yang telah dihancurkan. Muslim Sunni dan Syiah memprotes pembongkaran yang terjadi sehingga diadakanlah rapat yang diadakan setiap tahun di Pakistan, Iran dan Amerika Serikat (AS). Hari pembongkaran tersebut diperingati sebagai Hari Kesedihan bagi kaum Syiah. menurut Ensiklopedi islam para teolog dan intelektual Sunni juga melarang dan mengecam atas pembongkaran pemakaman al-Baqi namun kritik tersebut ditolak oleh pemerintahan Saudi.

Komplek Pemakaman Bersejarah al-Baqi Sebelum Dihancurkan

Daftar Pustaka

Share Facebook
Share Twitter
Share Google+

PENGHANCURAN KOMPLEK PEMAKAMAN AL-BAQI OLEH SEKTE WAHABI



FOLLOW

2010 © Bahaya Ajaran Sesat Sekte Salafi Wahabi Khawarij Mujassimah Musyabbihah
About / Sitemap / Contact / Privacy / Disclaimer